Rabu, 15 Agustus 2012

MERANTAU DEMI SARJANA

Berawal dari seuah kesederhanaan, seseorang ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan dating. Ya….kehidupan yang lebih baik di hari esok. Itu yangmenjadi tujuan utama seseorang yang hidupnya merantau.
Lewat goresan tangan ini aku mencoba memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana hidup di perantauan dan sedikit berbagi cerita tentang hidup itu.
Hidup merantau bukan sebuah kehidupan yang mudah. Semua orang belum tentu bisa. Hidup merantau adalah hidup dimana seseorang pergi meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan orang – orang yang dicintainya. Seperti pada ajaran umat kritiani yang dicontohkan oleh para rasul dimana disaat mereka dipilih dan dipanggil oleh Yesus untuk pergi mengikutiNya mereka langsung melepaskan dan meninggalkan pekerjaannya bahkan ayah kandungnya sendiri untuk pergi bersama Yesus. Hal itu merupakan salah satu contoh bahwa seseorang yang ingin hidup merantau harus rela untuk meninggalkan semuanya.
Setiap orang dalam kehidupannya tentu memiliki pengalaman tersendiri dan dari pengalaman itu, kita bias belajar banyak tentang kehidupan.
Cobaan dan tantangan bukanlah sebuah hal yang baru dalam kehidupan kita terutama bagi orang – oaring yang hidup di perantauan. Pahit dan manisnya kehidupan di perantuan membuat seseorang mempunyai bekal pengalaman yang luar biasa.
Berbicara mengenai bagaimana seseorang yang hidupnya merantau demi pendidikannya, saya mencoba memberikan sedikit pengalaman tentang sosok tokoh “Ia” yang hidupnya jauh dari orang tuanya demi memperoleh sarjana.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, perjalan hidup merantau dimulai pada saat menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMP. Pada saat itu ia memulai hidup merantau merasakan kehidupan yang jauh dari orang tua. Namun ia sangat bersyukur karena ia hidup bersama keluarganya yang merupakan orang tuanya di tanah rantau dan memang kehidupannya di tanggung oleh mereka termasuk pendidikannya.
Tujuan ia merantau adalah untuk dapat memperoleh kehidupannya yang lebih baik di hari esok dalam arti bahwa ia merantau bukan mencari pekerjaan namun mencari ilmu dan pengalaman untuk bisa memperoleh pekerjaan dan hidup layak dikemudian hari.
Sarjana adalah target yang harus ia capai. Dengan prinsip hidupnya dan pemikiran yang diberikan oleh orang tuanya di perantauan bahwa ia mempunyai tanggung jawab terhadap kedua orang tuanya dalam meningkatkan martabat kehidupan mereka yang lebih baik, ia mempunyai tekad untuk bisa mendapatkan sarjana.
Hidup di tanah rantau demi sarjana bukanlah hal yang mudah. Segalah cobaan dan rintangan terus menerus dihadapinya. Sebagai manusia kita mempunyai batas kesabaran dimana disaat – saat tertentu kita merasa putus asa dan tidak mampu untuk menghadapinya. Namun karena sarjana ia mencoba untuk mempunyai pemikiran dewasa dan tidak mengambil tindakan di luar jangkauan.
Pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan merupakan sebuah kewajiban yang harus diterima oleh seorang yang merantau. Dan pengalaman seperti itulah merupakan variasi hidup.
Hanya dengan modal kesabaran, ketabahan dan punya tekad dan niat dalam dirinya yang didukung oleh doa bahwa dia bias menghadapi semuanya itu demi mencapai kehidupan yang lebih baik di hari esok dan bias memperoleh SARJANA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar