MERANTAU
DEMI SARJANA
Berawal dari seuah kesederhanaan, seseorang ingin
memiliki kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan dating. Ya….kehidupan yang
lebih baik di hari esok. Itu yangmenjadi tujuan utama seseorang yang hidupnya
merantau.
Lewat goresan tangan ini aku mencoba memberikan
sedikit gambaran tentang bagaimana hidup di perantauan dan sedikit berbagi
cerita tentang hidup itu.
Hidup merantau bukan sebuah kehidupan yang mudah.
Semua orang belum tentu bisa. Hidup merantau adalah hidup dimana seseorang
pergi meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan orang – orang yang
dicintainya. Seperti pada ajaran umat kritiani yang dicontohkan oleh para rasul
dimana disaat mereka dipilih dan dipanggil oleh Yesus untuk pergi mengikutiNya
mereka langsung melepaskan dan meninggalkan pekerjaannya bahkan ayah kandungnya
sendiri untuk pergi bersama Yesus. Hal itu merupakan salah satu contoh bahwa
seseorang yang ingin hidup merantau harus rela untuk meninggalkan semuanya.
Setiap orang dalam kehidupannya tentu memiliki
pengalaman tersendiri dan dari pengalaman itu, kita bias belajar banyak tentang
kehidupan.
Cobaan dan tantangan bukanlah sebuah hal yang baru
dalam kehidupan kita terutama bagi orang – oaring yang hidup di perantauan. Pahit
dan manisnya kehidupan di perantuan membuat seseorang mempunyai bekal
pengalaman yang luar biasa.
Berbicara mengenai bagaimana seseorang yang hidupnya
merantau demi pendidikannya, saya mencoba memberikan sedikit pengalaman tentang
sosok tokoh “Ia” yang hidupnya jauh dari orang tuanya demi memperoleh sarjana.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, perjalan
hidup merantau dimulai pada saat menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMP.
Pada saat itu ia memulai hidup merantau merasakan kehidupan yang jauh dari
orang tua. Namun ia sangat bersyukur karena ia hidup bersama keluarganya yang
merupakan orang tuanya di tanah rantau dan memang kehidupannya di tanggung oleh
mereka termasuk pendidikannya.
Tujuan ia merantau adalah untuk dapat memperoleh
kehidupannya yang lebih baik di hari esok dalam arti bahwa ia merantau bukan
mencari pekerjaan namun mencari ilmu dan pengalaman untuk bisa memperoleh pekerjaan
dan hidup layak dikemudian hari.
Sarjana adalah target yang harus ia capai. Dengan
prinsip hidupnya dan pemikiran yang diberikan oleh orang tuanya di perantauan
bahwa ia mempunyai tanggung jawab terhadap kedua orang tuanya dalam
meningkatkan martabat kehidupan mereka yang lebih baik, ia mempunyai tekad
untuk bisa mendapatkan sarjana.
Hidup di tanah rantau demi sarjana bukanlah hal yang
mudah. Segalah cobaan dan rintangan terus menerus dihadapinya. Sebagai manusia
kita mempunyai batas kesabaran dimana disaat – saat tertentu kita merasa putus
asa dan tidak mampu untuk menghadapinya. Namun karena sarjana ia mencoba untuk
mempunyai pemikiran dewasa dan tidak mengambil tindakan di luar jangkauan.
Pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
merupakan sebuah kewajiban yang harus diterima oleh seorang yang merantau. Dan
pengalaman seperti itulah merupakan variasi hidup.
Hanya dengan modal kesabaran, ketabahan dan punya
tekad dan niat dalam dirinya yang didukung oleh doa bahwa dia bias menghadapi
semuanya itu demi mencapai kehidupan yang lebih baik di hari esok dan bias
memperoleh SARJANA.
